Selasa, 26 Februari 2013

Kenangan - 04

Bapak dan ibu Sis memberikan beberapa pesan penting padaku seperti beberapa nomor telpon penting yang bisa dihubungi jika ada sesuatu di luar kendali, namun intinya mereka mempercayakan semua padaku untuk sementara mewakili mereka menjaga dan memperhatikan kedua putrinya. Aku mendengarkan dengan sungguh-sungguh.
"Semoga berhasil Pak Sis dan ibu!" kataku.
"Terima kasih dan ingat semua pesan bapak dan ibu ya!" Tegas Pak Sis mengingatkanku.
Seluruh barang bawaan pun kembali diperiksa, lalu mereka berpamitan dengan Tia dan Sonya.
"Tia, Sonya, kalian harus nurut sama abang, jangan lupa belajar dan jangan nakal ya!" kata ibu Sis sambil memeluk dan mencium pipi kedua putrinya itu.
"Papa dan mama hati-hati ya!" kata Sonya.
"Iya, nanti juga kalau pulang jangan lupa oleh-olehnya yaa!" sambung Tia.
Pak Sis pun memeluk kedua putrinya dan mencium kening mereka.
"Papa dan mama berangkat dulu ya sayang, kalian baik-baik di rumah ya!" kata Pak Sis.
Selesai berpamitan, mereka lalu menaiki taksi yang akan mengantar mereka ke stasiun kereta api untuk lalu berangkat menuju Jakarta.

Taksi yang membawa bapak dan ibu Sis telah menghilang di balik tikungan jalan ketika aku melirik ke arah Sonya, pandangan kami pun bertemu dan ia melmparkan senyum manisnya kepadaku.
"Waah..pesta nih nanti malam!!" pikirku gembira.

Kriing.. kriing.. terdengar suara telpon berdering malam itu.
"Halo, dari siapa?" Terdengar suara Tia menjawab telpon.
"Kak Sonyaa.. telpon dari Dewa" teriak Tia memanggil Sonya.
Sonya segera menjawab telpon itu.
"Huuh.. banyak amat sih yang nelpon!!" gerutuku.
Sebenarnya bukan hanya malam ini saja, tapi hampir setiap malam banyak sekali telpon yang mencari Sonya dari temen-temen cowoknya di sekolah. Saat itu aku tidak terlalu peduli karena suasana rumah juga "belum-aman", tapi sekarang.. aku benar-benar merasa sangat terganggu.

Wajahku pastilah terlihat kesal ketika Sonya sudah berada di dekatku kembali dan bertanya, "Abang kenapa sich? Kok kelihatannya marah, ada apa bang?" tanya Sonya.
"Siapa sih itu yang nelpon, pacar ya?!" tanyaku dengan nada ketus, padahal aku sudah sangat berusaha untuk tenang, tapi tetap saja yang kuucapkan bernada ketus emosi.
"Iya bang, hihihi enggak kook, Dewa cuman temen biasa tadi juga cuman nanyain PR buat besok, Mmm.. abang cemburu yaa?" godanya padaku sambil melemparkan senyum nakal.
"Eh.. eng.. enggak kok, cuman sinetronnya sedang seru tuh" kataku dengan gugup berusaha mengelak.
"Kenapa sih dari tadi banyak amat mahluk yang nelpon??" tanyaku akhirnya.
Sonya tersenyum lalu berkata, "begini deh, nanti kalau ada yang nelpon lagi, abang juga angkat telpon yang di kamar mama yaa, biar bisa ikutan dengar" katanya.
"Oh boleh, abang juga pengen tau apa sih maunya orang-orang yang nelponin Sonya itu.. huh.. mengganggu saja mereka!!" jawabku kembali dengan nada ketus.
Sonya lalu duduk di sampingku di sofa panjang sambil merangkulkan tangan kiriku pada lehernya, lalu ia dengan manja merebahkan kepalanya di pundakku.

Perasaanku pun kembali tenang. Kami menonton acara TV bersama, melepaskan lelah sehabis sibuk mengerjakan tugas-tugas rumah untuk sekolah esok. Tialah yang paling berkuasa memonopoli acara TV yang kami tonton karena ia memegang remote TV, duduk di karpet sambil bermain dengan boneka-boneka Barbienya dan tidak ada seorang pun yang boleh mengganggunya saat itu karena ia sangat suka menonton sinetron kesayangannya, Bidadari. Setelah sinetron itu selesai, aku segera menyuruh Tia untuk bobo. Sonya dan aku biasanya sering menemani Tia untuk menina bobokannya, terlebih malam ini saat aku dan Sonya ingin mereguk "kenikmatan surga duniawi" yang telah lama tertunda.
"Tia, ayo bobo sayang, sudah malam nih" kataku membujuknya.
"Nanti ya Bang, soalnya Tia masih mau nonton TV" kata Tia sambil tertawa-tawa dan berusaha untuk menghindariku yang berjalan ke arahnya.

Kriing.. kriing.. kembali telpon berbunyi.
"Bang, Tia angkat telpon dulu!" kata Tia seolah mendapat angin lalu berlari menuju telepon.
"Halo.. selamat malam.. dari siapa?" tanya Tia.
"Kak Sonyaa.. telpon dari Padi" teriak Tia memanggil kakaknya.
Sonya lalu menggamit tanganku dan memintaku untuk mendengarkan pembicaraan mereka lewat telpon di kamar ortunya. Pintu kamar kubuka lebar-lebar sehingga aku bisa mendengarkan pembicaraan sambil melihat ke arah Sonya yang berdiri di sana.
"Halo" kata Sonya.
"Hai Sonya, ini Padi, sedang ngapain nich?" Padi berbasa basi.
"Nonton TV, eh kamu dari kelas berapa??" Sonya bingung.
"eh.. aku dari kelas tiga itu lho, defendernya tim inti basket sekolah kita, kamu khan cheerleadernya pasti kamu tau aku doong" jelasnya.
"Cuihh.. nge-bullshit dia!!" pikirku geram.
"Hmm.. mungkin" jawab Sonya dingin.

Suasana hening sejenak, lalu terdengar Padi berkata lagi
"mm.. begini, sebenernya aku mau mengajak Sonya nonton pertandingan basket liga profesional besok sore yang di stadion deket sekolah kita, Sonya ada waktu ngga?" tanyanya penuh harap.
"Waah, kayaknya ngga bisa deh Di, besok sore Sonya mau berenang" jawab Sonya cuek.
"Mau berenang yaa? Di mana? Aku temenin deh, aku juga suka berenang, bareng ya besok!" pinta Padi.
"Busseet dasar bajigur! Maksa amat jadi orang, wong Sonya juga nggak kenal ama dia" pikirku.
"Ah, nggak perlu deh Di, soalnya Sonya ditemenin sama Tia dan abang, tapi makasih ya" Sonya menolak dengan halus.
"Ngga pa pa deh.. tapi gimana kalo besok pulang sekolah bareng kuanter naik motorku, aku tunggu di depan kelasmu yaa" katanya lagi usaha.
"Besok Sonya dan teman-teman mau janjian kerja kelompok jadi pulangnya harus bareng-bareng naik angkot soalnya Sonya belom tau rumahnya.."
"Huaahh dasar gombal, perayu kelas teri!!" gerutuku dalam hati.

Kesal sekali rasanya, orang itu kok kayak nggak ngerti-ngerti, Sonya sudah tidak mau kok masih aja maksa.. dsb.. dsb.. begitulah kira-kira apa yang kupikirkan saat itu. Perasaanku meledak-ledak sekali, ingin rasanya aku memotong pembicaraan mereka dan menyudahinya, tapi aku berusaha untuk bersikap tenang terlebih di depan Sonya, aku harus selalu bisa memberikan contoh yang baik, aku juga berusaha untuk mengerti seandainya aku yang berada pada posisi si Padi tadi, mungkin aku juga akan begitu, yahh, namanya juga usaha..

Aku melihat bahwa begitu banyak orang yang berusaha mengambil hati Sonya, mendekatinya dan menjadikannya pacar, tetapi mereka tidak bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan. Hal ini membuatku merasa sadar bahwa betapa bahagianya aku saat ini karena bisa memilikinya, menyayanginya, mencurahkan seluruh perhatian dan perasaan kasih sayangku padanya, merupakan suatu penghargaan tertinggi yang bisa kupersembahkan kepada Sonya ataupun kepada bidadari-bidadari kecil lainnya yang pernah dan mungkin akan kutemui sepanjang perjalanan hidupku.

Aku kembali melihat ke arah Sonya yang tersenyum-senyum sambil memandangku. Sonya terlihat begitu cantik, lesung pipit di pipinya menyempurnakan kecantikan wajahnya, Ia mengenakan daster tipisnya yang seksi sehingga aku dapat melihat tonjolan bukit kembarnya yang tengah berkembang pesat, kulitnya yang putih mulus, tubuh yang seksi feminin, rambut terurai berkilau panjang sebahu, usianya yang baru menginjak 12 tahun, benar-benar seorang bidadari. Selain teman-teman yang mendekatinya, banyak juga pencari-pencari bakat dan produser-produser sinetron lainnya yang sudah kebelet ingin menjadikannya seorang model-lah, bintang sinetron-lah, tetapi untungnya semua tawaran itu ditolak mentah-mentah oleh Pak Sis, dan aku tentu saja, sangat mendukung keputusan Pak Sis tersebut.
"Mm, jadi besok Sonya sibuk sekali ya?" tanya Padi yang keliatannya udah agak ngerti.
"Huaahh dasar lamban!" pikirku emosi.
"Iyyaa.." jawab Sonya dengan manja.

Suaranya yang halus dan manja serta silhouette tubuh sexy femininnya plus dua bukit kembar di balik dasternya yang tipis membuat birahiku menggelegak bak lahar di kawah candradimuka, ingin rasanya segera menerkam dirinya dan segera memberikan sentuhan kenikmatan seperti yang biasa kuberikan padanya, terlebih suasana saat ini telah begitu mendukung. "Hhh.. hh.. hh.." perasaan cemburu dan nafsu birahiku bercampur menjadi satu membuatku tidak mampu lagi mengatur nafasku, jantungku berdegup kencang.

"Eh Padi, udah dulu ya, Sonya mau bobo nich!" kata Sonya tiba-tiba mengakhiri pembicaraannya, mungkin ia juga bisa mendengar dengusan nafasku di telepon, tapi aku sudah tidak peduli, segera kututup telponnya dan segera berjalan dengan cepat ke arah Sonya yang tidak lama kemudian juga menutup telponnya lalu dengan setengah berlari ia masuk ke kamarku.

Ketika aku masuk ke kamar, kulihat Sonya tengah berdiri bersandar di meja belajar menantiku sambil kaki kirinya naik ke atas tempat tidurku sehingga dapat kulihat pahanya yang putih mulus itu tersingkap dengan jelas di hadapanku. Dengan cepat kupegang erat kedua bahunya, kutarik lalu kudorong merapat tembok. Aku merapatkan jarak dengannya lalu kuraih kedua tangannya dan kuangkat ke atas menempel ke tembok lalu kutahan. Posisi Sonya sekarang bagaikan orang yang sedang "angkat-tangan" di hadapanku membuat kedua bukit kembarnya tercetak jelas di balik daster tipisnya. Ia memandangku dengan pandangan yang penuh kegairahan sambil sedikit menggigit bibir bawahnya. "Hhh.. hh..hh.." Aku memandang wajahnya dengan penuh nafsu sampai-sampai hembusan nafasku mengibaskan rambutnya.

Posisi dadanya yang membusung ke depan begitu menantang dikarenakan kedua tangannya yang masih juga kutahan di atas. Tanpa bisa kukontrol lagi aku segera menghisap dan menjilati payudara kuncup bidadari kecilku. Daster tipis yang membalut bukit kembarnya yang sexy itu tidak bisa menghalangi hisapan dan jilatan liarku, bahkan malah membuatku semakin bernafsu untuk menghisap, karena ternyata jika menjadi semakin basah, maka bukit kembarnya itu akan semakin tercetak dengan jelas. Hal ini membuat Sonya menggeliat-geliat kenikmatan. Tidak lama kemudian ciuman dan jilatan kuarahkan ke lehernya yang jenjang, dagunya lalu naik ke bibir tipisnya yang sexy. Pertarungan emosi antara nafsu dan rasio agar tidak melakukan hisapan dengan sangat kuat dan penuh nafsu, hingga bisa menyakiti dirinya membuat tubuhku bergetar.

Kekhawatiran itu membuat kelembutan diriku kembali muncul, lalu kuhisap lidah Sonya dengan lembut dan penuh perasaan, melepas kerinduanku yang sudah sekian lama tertunda, sementara tanganku pun mulai merayap turun untuk kemudian menjamah kedua bukit kembarnya. Sonya terlihat menikmati apa yang kulakukan terhadap dirinya lalu mulai merangkulkan lengan kirinya di leherku lalu tangan kanannya membelai kepalaku. Aku kemudian menggetarkan tanganku seperti vibrator yang kini memegang sepasang payudaranya, hal itu ternyata membuat Sonya amat sangat terangsang sehingga kali ini ia tidak bisa mengontrol dirinya dan mulai menghisap lidahku dengan kuat. Hisapannya pada lidahku begitu kuat di tambah rangkulan tangannya pada leherku sehingga membuat kepalaku serasa terjepit. Bagiku, selama masih dalam batasan yang wajar dan masih bisa kuatasi, Sonya boleh lepas kontrol terhadapku tetapi aku yang wajib untuk mengontrol diriku sendiri agar tidak menyakiti apalagi sampai merusaknya secara fisik.

Kenangan - 05

Kugetarkan kembali tanganku agak kencang pada sepasang payudaranya yang sensitif itu dan "Aaahh.." Sonya mendesah. Apa yang kulakukan ternyata membuatnya terangsang hebat, begitu hebatnya sampai-sampai ia melepaskan hisapannya pada lidahku dan agak memundurkan payudaranya sedikit ke belakang agar terlepas dari getaran mautku. Kesempatan itu tidak kusia-siakan, segera kubuka daster tipis Sonya dan menyisakan CD putihnya, sehingga seolah masih menyimpan misteri yang membuatku menjadi selalu penasaran, lalu kugendong dia ke atas tempat tidurku sambil memberinya french kiss.

Tangan kananku pun sibuk mengusapi perutnya lalu turun ke bagian paha dalamnya dan naik lagi ke perutnya sambil sesekali membelai payudaranya yang sensitif itu. Rangsangan tanganku kini mulai kufokuskan, kuelus puncak bukit payudara kanannya dengan telunjukku sementara keempat jari lainnya memijat-mijat badan bukitnya yang secara utuh telah berada di bawah telapak tanganku. Perlahan tanganku menggetarkan bukit payudaranya lalu kupercepat intensitas getarannya, hal ini membuat Sonya kembali tidak dapat mengontrol dirinya. Rangkulan tangannya pada leherku menjadi sedemikian eratnya, begitu pula hisapannya pada lidahku yang seolah-olah ingin menelan seluruh cairan tubuhku sampai tak bersisa. Hangat nafasnya yang terengah-engah pun menerpa wajahku dan menambah sexy suasana.

Akhirnya Sonya menekan dadanya ke bawah agar payudaranya bisa terlepas dari getaran tanganku. Hisapan dan rangkulannya jadi agak mengendor, saat itu aku yakin Sonya berusaha curi nafas, tapi aku tidak mau membiarkan nafsunya turun begitu saja, lalu dengan cepat aku segera menggeser ciuman dan jilatanku ke leher kemudian menuju bukit payudara kirinya. Kuhisap dengan cepat puncaknya yang berwarna coklat muda yang indah memberikan gradasi warna yang kontras sempurna dengan kulitnya yang putih.
"Aaahh.. abaanghh.. hh.. hh.. sshh.. Sonya ngga kuat baang.. mo pipiissh.." Sonya kembali mendesah.

Aku bisa merasakannya, tentu saja dia langsung menyerah, sebab begitu mulutku mendapatkan putingnya langsung kuhisap dan kujilati puncak bukit payudara kirinya itu, tanganku pun langsung mengejar dan kembali menggetarkan payudara kanannya yang agak terlepas tadi.
"Abaanghh.. sshh.. aahh.." tubuh Sonya menggelinjang-gelinjang kenikmatan.
Ia juga mulai mengangkat pinggulnya yang berarti ia mau menyerah sekarang. Melihat hal itu aku segera bergerak cepat, menghentikan hisapanku lalu berpindah menuju selangkangannya. Kedua tanganku dengan sigap lalu membuka kedua pahanya lebar-lebar lalu kupinggirkan bagian celana dalamnya yang sudah basah dan masih menutupi vaginanya karena aku tidak punya waktu lagi untuk melepaskannya.

Sekarang aku bisa melihat cairan kenikmatan yang meleleh keluar dari daerah keperawanan Sonya. Aku segera menjilat dan menghisapnya sementara jariku masih menahan bagian CDnya yang tadi kupinggirkan agar tidak lagi mengganggu. Sonya segera mencengkram rambutku dengan kedua tangannya dan menekannya lebih dalam sementara paha kiri dan kanannya menjepit kepalaku dengan kuat.
"Abaanghh.. sshh.. aahh.. Sonya keluar.. baanghh.." teriaknya.
Tubuh Sonya yang sexy itu kini tersentak-sentak, sementara aku berusaha meredam gerakan liarnya agar rangsangan dan hisapanku tidak terlepas dari vaginanya.
"Aaahh.." Seiring dengan desahan itu, meluncurlah cairan orgasmenya yang hangat dan nikmat, langsung kusambut dengan hisapan mulutku. Tekanan tangan dan jepitan pahanya kini sudah lepas, Sonya sudah tenang kembali tapi masih terlihat lemas, segera kubuka celana dalam putihnya yang menggangguku tadi.

Kini Sonya benar-benar telanjang bulat di hadapanku. Tubuhnya yang putih mulus itu terlihat mengkilap oleh keringat, matanya sayu menatapku dan ia mencoba untuk tersenyum. Aku tersenyum padanya dan mulai menjilati kembali daerah kewanitaannya yang kini sudah mulai ditumbuhi bulu-bulu halus walaupun masih jarang. Sebenarnya, aku kurang suka melihatnya karena favoritku adalah daerah kewanitaan yang benar-benar bersih tanpa bulu, tapi daripada mengeluh, lebih baik aku mensyukuri apa yang kumiliki. Aku mulai menjilati bibir vertikal dan bulu-bulu halusnya, sementara tangan kiriku berusaha menjatuhkan CD Sonya ke bawah ketika tiba-tiba..

Kini Sonya benar-benar telanjang bulat di hadapanku. Tubuhnya yang putih mulus itu terlihat mengkilap oleh keringat, matanya sayu menatapku dan ia mencoba untuk tersenyum. Aku tersenyum padanya dan mulai menjilati kembali daerah kewanitaannya yang kini sudah mulai ditumbuhi bulu-bulu halus walaupun masih jarang. Sebenarnya, aku kurang suka melihatnya karena favoritku adalah daerah kewanitaan yang benar-benar bersih tanpa bulu, tapi daripada mengeluh, lebih baik aku mensyukuri apa yang kumiliki. Aku mulai menjilati bibir vertikal dan bulu-bulu halusnya, sementara tangan kiriku berusaha menjatuhkan CD Sonya ke bawah ketika tiba-tiba..

Celana dalam Sonya yang kupegang tadi tiba-tiba ditarik oleh seseorang yang tidak kami sadari keberadaannya sedari tadi. Aku sangat-sangat terkejut sampai-sampai aku terduduk tegak menghadap ke arah Sonya yang masih terlihat lemas. Aku tidak berani menoleh dan kurasa wajahku menjadi pucat.
"Iiih abang, ini khan celana dalam Kak Sonya jangan dilempar-lempar doong! lho, kok basah sih celananya? Emangnya abang sama Kak Sonya lagi ngapain sih? Kok Kak Sonya telanjang?" pertanyaan beruntun yang dilontarkan oleh suara mungil yang sangat kukenal baik.. ya, itu suara Tia..
Betapa cerobohnya aku sampai-sampai lupa mengunci kamar. Aku berusaha keras mengingat-ingat apa yang terjadi, mengapa Tia bisa lolos sampai di sini? Seharusnya dia khan sudah bobo..

Wuaahh.. kini aku ingat.. ini semua gara-gara telpon sialan itu yang membuat kami lupa untuk menidurkan Tia. Rupanya ia masih menonton TV saat kami bercinta di sini. Tia lalu mendekati Sonya dan memberikan celana dalamnya yang ia ambil dari tanganku tadi. Sonya tidak tampak terkejut saat melihat Tia dan itu membuatku sedikit merasa tenang.
Sonya merangkul Tia dan berkata dengan lembut, "abang tadi sedang mengajarkan sesuatu yang pernah Kak Sonya ceritakan sama Tia, masih ingat khan?" tanya Sonya.
"Yang ngga boleh bilang papa mama itu khan? Iya kak, Tia masih ingat" jawab Tia.
Sonya tersenyum senang "Tia mau khan diajarin juga sama abang dan Kak Sonya?" lanjut Sonya.
"Tapi tadi Kak Sonya diapain sih sama abang, kok sampe teriak-teriak, Tia khan jadi takut" raut wajah Tia jadi agak berubah.
Sonya memeluk Tia dan membelai punggungnya seraya berkata, "abang tadi membuat Kak Sonya kegelian.. enaak sekali, saking enaknya Kak Sonya ngga sadar kalo teriak, naah kalo Tia mau diajarin sama Kak Sonya dan abang, Tia harus selalu menepati janjinya ya!" bujuk Sonya.
"Iya kak, Tia janji ngga akan bilang papa mama dan mau nurut sama abang dan Kak Sonya" janji Tia.
Sonya tersenyum mendengarnya lalu menyodorkan kelingkingnya ke arah Tia sambil berkata, "janji yaa!" Tia pun lalu mengaitkan kelingkingnya dengan kelingking Sonya tanda ia berjanji.

Perasaanku menjadi tenang kembali melihat kakak beradik yang cantik itu rukun dan akur. "Nah, Tia sudah berjanji sama Kak Sonya, sekarang Tia harus berjanji juga dong sama abang!" perintahku. Tia lalu berjalan mengitari tempat tidur ke arahku sambil menyodorkan kelingkingnya untuk mengikat janji denganku. Aku melihat wajahnya yang begitu polos, begitu murni membuat perasaan sayangku padanya meluap-luap. Manusia macam apa yang akan tega menyakitinya??

Aku segera mengangkatnya dan mendudukkannya di atas perutku lalu berkata, "Iya Tia sayaang, abang percaya sama Tia, Tia khan anak cantik yang baik.. cup kataku sambil mengecup keningnya.
"Nah, sekarang abang akan memperlihatkan bagaimana caranya memberikan oral seks kepada Kak Sonya, Tia perhatikan baik-baik!" kataku sambil tersenyum padanya.
Baru saja aku mau bergerak ke arah Sonya, tiba-tiba Sonya duduk dan berkata, "tidak adil dong Bang kalau begitu, sekarang giliran abang yang Sonya kasih "os"!" katanya sambil bergerak ke arahku. Terus terang saja, aku terkejut mendengarnya sampai jadi salah tingkah, ternyata Sonya bukan hanya seorang anak cantik dan cerdas tetapi juga penuh pengertian. Sebenarnya aku agak malu mempertontonkan batangku di depan kedua godiva kecilku ini, tapi apa boleh buat..

Aku segera melucuti pakaianku di depan kedua goddess mungilku sesuai dengan permintaan Sonya. Mungkin karena aku merasa agak malu sehingga batangku yang tadinya begitu tegang, menjadi kembali agak tertidur.Dengan telanjang bulat, aku segera menaiki tempat tidur lalu mengatur posisi Tia agar dia bisa memperhatikan dengan jelas apa yang akan Sonya lakukan. Tia masih tetap duduk di atas perutku tapi menghadap ke arah Sonya sehingga aku juga dapat memeluknya dari belakang, sementara Sonya sudah siap berhadapan dengan batangku.
"Tia, perhatikan Kak Sonya yaa!" kata Sonya pada Tia yang mulai memperhatikan ulah kakaknya itu dengan seksama. Sonya mulai mengecup dan menjilati batangku dari kepala hingga pangkal, buah zakar, dan tak lama kemudian batangku mulai bangun lagi.
"Iiih.. burungnya abang berdiri!" tiba-tiba Tia berteriak.
"Iya Tia, itu artinya abang sayang sama Kak Sonya" jawab Sonya menjelaskan.
Aku tersenyum lalu menambahkan, "abang sayang sama Sonya juga sama Tia" tambahku sambil mencium pipi Tia dari belakang.

Sonya lalu mulai memasukkan bagian kepala batangku ke dalam mulutnya lalu menguncinya dengan bibir dan lidahnya, kemudian dengan hati-hati agar tidak terkena giginya meluncur turun menuju pangkal batang sehingga hampir seluruhnya berada di dalam mulutnya selama beberapa saat, baru naik lagi ke bagian kepala.
"Aaah.." aku mulai menggeliat keenakan. Tia yang berada dalam pelukanku, kini menjadi sasaran kegiatanku, tapi aku tidak berusaha merangsangnya agar perhatiannya tetap fokus pada Sonya. Aku hanya memeluknya dari belakang dengan penuh kehangatan dan mencium wangi rambut dan tubuhnya sebagai penambah stamina, yang juga merupakan aroma terapi bagiku agar mampu bertahan lebih lama menghadapi rangsangan blow job yang Sonya berikan.

Semakin nafsuku menggelegak naik, semakin aku menarik nafas dalam-dalam dengan perlahan, menikmati aroma harumnya tubuh dan rambut Tia. Suatu hal yang menarik bagiku adalah, jika seorang gadis cantik selalu rajin menjaga kebersihan tubuhnya dengan mandi secara teratur dan menggunakan sabun yang sesuai dengan kulitnya, bukan dengan memakai parfum banyak-banyak, maka ia akan terlihat selalu segar, awet muda dan selalu akan menebarkan aroma wangi yang bersih. Hal itu akan menjadi suatu ciri khas bagaikan sidik jari pada setiap orang.
"Ssshh.. aahh.." aku kembali mendesah. Hisapan dan gerakan Sonya yang semakin cepat membuat konsentrasiku buyar. Rasa geli dan ngilu nikmat akibat kuluman dan hisapan itu mulai menjalar naik ke seluruh tubuh ini.

Kenangan - 06

Kupeluk Tia dengan agak kencang, nafasku memburu, aku tidak kuat lagi untuk bertahan lebih lama dan, "Aaah.. Sonya.. abang mau keluar sayaang.. sshh.. aahh.." Sonya segera melepaskan hisapannya, kini tangannya mengocok batangku dengan cepat, mulutnya membuka lebar siap menyambut semburan lahar cintaku.
Tubuhku bergetar hebat bagaikan terkena sengatan listrik dan akhirnya, "Sonya.. Aaahh.. croot.. croot.. croot.." spermaku pun muncrat dengan cepat dan banyak mengenai mulut dan wajah Sonya dan ketika tembakan spermaku tadi mulai berhenti, Sonya lalu menghisap batangku yang mulai melemas dengan antusias seperti seorang yang sedang menghisap permen lolipop.

Setelah merasa sudah tidak ada cairan yang tersisa pada saluran dalam batangku, Sonya pun duduk dan menatap wajahku yang kini bertopang lemas pada bahu kanan Tia, memandang sayu ke arahnya.
"Iiih, Kak Sonya kok mau minumin pipis abang?" tanya Tia setengah berteriak.
Sonya tersenyum lalu bertanya, "Tia sayang ngga sama abang?" Tia mengangguk.
"Kalau begitu Tia pasti nanti mengerti" kata Sonya dengan bijak.
Aku tersenyum mendengarnya, Sonya benar-benar seorang bidadari muda yang hebat dan bijak.
"Nah, pelajarannya selesai, besok kita lanjutkan lagi, sekarang Tia bobo yaa!" perintahku sambil menggendong Tia ke kamarnya dengan tubuhku yang masih telanjang bulat, sementara Sonya membersihkan dirinya.

Tidak berapa lama Sonya masuk ke kamarnya dengan membawa piyamaku saat aku masih menunggui Tia yang sudah mulai terlelap di balik selimutnya yang hangat. Aku segera memakai piyamaku lalu menuju tempat tidur Sonya untuk mengucapkan selamat malam. Ia tersenyum memandangku, kukecup bibir tipisnya yang sexy itu seraya berkata, "Sonya, kamu sangat cantik dan luar biasa malam ini sayang" kubelai rambutnya dengan lembut, "sekarang bobo ya sayang" kataku lagi sambil memeluknya dengan penuh kehangatan, lalu kembali ke kamarku.

Keesokan pagi sampai dengan sore berjalan sebagaimana biasa, tetapi waktu malam setelah mereka kutemani dan kubantu menyelesaikan tugas-tugas sekolahnya, itulah yang rruaarr biasaa. Malam-malam berikutnya programku kepada mereka adalah memberikan tontonan kepada Tia tentang film-film lesbian, dan juga peragaan deep and hot french kiss, pemberian oral dan blow job secara "live" antara aku dan Sonya.

Selama ini aku tidak pernah "menembus" Sonya dan menyentuh Tia secara lebih dalam, hal itu hanya kuwakilkan kepada Sonya. Kuminta Sonya untuk mempraktekkan french kiss dan pemberian oral pada Tia sementara aku mengamati dan memberinya instruksi sambil berbaring di samping Tia, memegang tangannya dan membelai lembut kepalanya. Beberapa adegan film close-up yang bagus sengaja ku paus untuk memberikan pengertian, terutama pada Tia, tentang gaya dan cara untuk memuaskan pasangannya.

Aku bagaikan seks instruktur bagi mereka (I'm a sex instructor for pretty young divas only, first lesson's free). Pengertian-pengertian yang kuberikan bukan hanya sebatas aktivitas di atas ranjang saja, tetapi juga sampai pada menjaga gizi seimbang, olahraga yang teratur agar tubuh tetap sexy dan enak dipandang, serta bagaimana cara membersihkan tubuh mereka terutama daerah-daerah yang paling feminin dan misteri dari seorang wanita, tapi untuk hal yang satu itu hanya sebatas pengetahuanku saja, mengenai detilnya, kuanjurkan agar mereka bertanya pada ibundanya. Aku berusaha untuk menanamkan pemikiran serta sikap pada kedua goddess mudaku ini bahwa menjaga kebersihan diri merupakan hal yang teramat sangat penting bagi seorang wanita. Pernah juga Sonya bertanya mengenai perubahan yang terjadi pada tubuhnya dan membandingkannya dengan cewek-cewek yang ada di film lesbian yang kami tonton.

Ia bertanya mengapa cewek-cewek itu di daerah ketiak dan kewanitaannya bersih tanpa bulu, lalu apakah kalo besar nanti payudaranya akan tumbuh jadi sebesar bola basket seperti yang di film karena ia tidak mau seperti itu dan ingin yang normal saja seperti milik ibunya, dan mengapa milikku tidak sebesar tongkat baseball menakutkan seperti yang di film. Aku memberikan penjelasan bahwa mengenai daerah ketiak dan kewanitaan yang bersih tanpa bulu karena mereka secara teratur mencukurnya karena hal itu melambangkan kefemininan, keindahan dan keseksian bagi mereka, kukatakan juga bahwa mereka itu mencukurnya dengan alat cukur janggut seperti milik papanya tapi kembali kutegaskan mengenai yang lebih benarnya sebaiknya bertanya langsung ke ibu mereka atau ke sesama teman cewek di sekolah yang pastinya lebih mengetahui secara detil hal-hal semacam itu.

Intinya, seorang wanita cantik akan lebih sempurna apabila pandai menjaga kebersihan tubuhnya menghilangkan rambut di tubuhnya secara teratur, kecuali tentunya rambut pada bagian kepala karena itu merupakan sebuah Tiara kecantikan yang wajib untuk selalu dirawat dan dipertahankan. Kuanjurkan juga agar mereka saling mengingatkan untuk selalu menajaga kebersihan diri dengan sebaik mungkin, karena walaupun Sonya dan Tia cantik-cantik bagaikan bidadari, namun kalau tidak pandai merawat diri, pasti akan terlihat sangat tidak menarik. Mereka tahu dan pernah melihat contoh-contoh kurang baik yang kuperlihatkan dan mereka pun tidak ingin menjadi seperti itu.

Mengenai payudaranya, aku jelaskan bahwa itu akan tumbuh dan berkembang secara normal tetapi tidak akan sebesar seperti yang kami lihat di film, karena yang di film itu merupakan hasil operasi plastik penanaman silikon, lagipula kutambahkan bahwa aku sangat menyukai yang natural asli alami seperti payudara milik Tia dan Sonya. Mengenai milikku, kujelaskan bahwa batang segede tongkat baseball itu masih bisa dibilang kecil.. karena ada yang segede dan sepanjang tiang listrik hahaha.. Kujelaskan batang yang besar itu tidak banyak manfaatnya, malah hanya akan menyakiti si cewek. Contoh yang kuberikan pada Sonya adalah ketika dia memberiku blowjob, maka dia tidak perlu membuka mulutnya lebar-lebar dalam waktu yang lama karena hal itu akan menyakitkan buat rahangnya, lalu kalau dimasukkan ke dalam vagina pasti akan membuat si cewek kesakitan, walau tidak lama karena setelah itu pasti terasa nikmat, tetapi efeknya adalah meninggalkan lubang yang besar dan meninggalkan bentuk yang kurang sedap dipandang.

Aku mengetahuinya karena aku sudah mendengar pengakuan yang diberikan oleh seorang aktris pemain film seks professional itu sendiri kepadaku. Karena itulah aku tekankan pada mereka untuk selalu menghargai dan memanfaatkan dengan sebaik-baiknya semua yang mereka miliki agar lalu tidak menjadi rendah diri dan bersembunyi di balik kepalsuan. Aku juga menanyakan pada Sonya apakah dia suka batang yang segede di film, Sonya mengatakan bahwa ia takut melihatnya dan ia lebih suka yang normal alami. Kutegaskan bahwa yang terpenting adalah pengertian dalam membahagiakan pasangan, bukan menyiksanya.

Sayang sekali saat itu aku kesulitan mendapatkan film-film Jepang sebagai pembanding karena rata-rata film versi asia khususnya Jepang lebih berani tampil natural, tidak bersembunyi di balik hasil operasi buatan yang penuh kepalsuan, namun mampu menampilkan variasi hebat, kreatif dan inovatif serta berteknik tinggi, sehingga secara pribadi, aku kagum kepada mereka.

Dari sekian banyak materi "kuliah" yang kuberikan, satu hal yang paling penting adalah menjaga diri mereka terutama bila mereka sudah mulai berpacaran nanti, maksudku jangan sampai rudal sang pacar diijinkan untuk menembus keperawanannya lalu si pacar kabur begitu saja, pokoknya kalau si pacar itu sudah ingin yang macem-macem, segera putuskan. Serahkan diri seutuhnya hanya pada orang yang benar-benar menyayangi, perhatian dan bertanggung jawab sebagai suami yang syah itulah kebahagiaan sejati yang kutanamkan pada pemikiran mereka dan kuyakin dapat terwujud suatu hari nanti pada diva-diva mudaku ini.

Keesokan harinya yakni hari Sabtu itu sepulang dari sekolah, aku mendapat kabar per telepon dari Pak Sis bahwa mereka sudah kembali berada di Jakarta dan baru besok sore akan sampai di rumah. Ia juga menanyakan kabar kedua putri yang sudah sangat dirindukannya serta menyampaikan bahwa pertemuan bisnisnya di Australia berhasil dengan sukses. Aku memberikan laporan bahwa kedua putrinya dan keadaan di rumah baik-baik saja serta mengucapkan selamat atas keberhasilannya. Kabar itu membuat perasaanku campur aduk,"ini berarti malam terakhir pesta kami bertiga!" pikirku.

Malamnya kebetulan aku ada janji ketemu dengan cewek cantik anak kelas satu di sekolahku yang selama ini kuincar, maka aku pulangnya agak malam, namun Sonya dan Tia sudah kuberitahu dan kujanjikan bahwa pelajaran pasti berlanjut malam ini, mereka juga kuharuskan menonton film lesbian yang sudah kusiapkan sambil menungguku, jadi tidak perlu khawatir.

Kencan malam itu berakhir dengan sukses, karena ketika aku nyatain.. ternyata di luar dugaan dia menerimanya, betapa bahagianya aku malam itu. Saat aku tiba di rumah sekitar pukul 22.00 aku langsung mencari Sonya dan Tia. Agak terkejut ketika kudapati mereka berdua di kamar ortunya tengah berciuman sambil berguling-guling di atas spring bed yang besar itu.

"Waah, kok ngga nungguin abang sich?" godaku.
"Abiis abang lama sich, Sonya dan Tia khan nggak sabar jadinya, tapi ini juga baru mulai kok bang, tadi lamanya nonton film dulu" jawab Sonya.
Tia menghambur ke arahku minta digendong dan ia pun bergantung di punggungku.
"Eh.. abang mau cerita nich, tadi abang sudah nyatain ke temen cewek yang cantik, junior abang di sekolah, dan abang diterima jadi pacarnya" kataku gembira.
"Waah, selamat ya bang, ada fotonya ngga?" tanya Sonya.
Aku segera mengambilnya di dompetku, "nih liat, abang dikasih waktu di restoran tadi, gimana menurut Sonya?"
"Waah, abang seleranya bagus.. dia cantik sekali, cute, siapa namanya bang?" tanya Sonya.
"Liat doong, liat fotonya" kata Tia.
"Namanya Melati" jawabku.
"Wuiihh, iya Bang cantiik, kaya Kak Sonya" Tia berpendapat.
"Aaah, cutenya lebih mirip Tia kok" Sonya memuji keimutan adiknya.
"Bang, nanti kenalin sama Sonya dan Tia, ajak maen seks bareng" pinta Sonya.
"Iya baang" dukung Tia.
Idenya benar-benar membuatku sumringah.
"Waahh, seru buanget nih" pikirku.
"Pasti, abang kenalin ke bidadari-bidadari abang ini, tapi kalau ngajak maen bareng.. abang nggak bisa janji yaa" kataku.
"Nggak pa pa kok bang, yang penting kenalin dulu sama kita cewek beruntung yang jadi pacar abang itu" kata Sonya. "Aaah, Sonya bisa aja" kataku tersipu.
"Ayo ah, sekarang kita mulai pelajarannya, biar abang yang buka daster kalian yaa!" kataku sambil mulai melucuti pakaianku sendiri.
Dengan menyisakan celana dalam di tubuhku, aku berkata pada Sonya, "malam ini abang mau mencoba Tia, boleh ya Sonya" kataku. Tia memandang ke arahku lalu ke arah Sonya. Sonya tersenyum lembut lalu berkata, "boleh dong Bang Sonya dan Tia khan percaya sama abang" jawab Sonya. Mendengar ijin Sonya, Tia pun tersenyum lalu memandang ke arahku.

Kenangan - 07

Tia mengangkat kedua tangannya lurus ke atas tanpa dikomando ketika kedua tanganku baru saja mau membuka dasternya. Satu kesalahan kecil saja yang kulakukan terhadap mereka maka aku akan menjadi salah satu bintang dalam berita TV. Segera kuangkat Tia yang kini hanya mengenakan celana dalam putihnya itu ke tengah tempat tidur, lalu kurebahkan. Sementara Sonya mengambil posisi berbaring di samping kiri Tia, memegang tangannya dan membelai rambutnya. Aku duduk tegak di atas kedua lututku untuk menikmati pemandangan-pemandangan indah yang terhampar di depanku. Kuperhatikan Tia yang kini hanya tinggal dibalut celana dalamnya saja, kulitnya yang putih mulus mirip kakaknya, membuatku tidak sabar untuk memberinya kecupan-kecupan mesra.

Pada sebelah kiri Tia berbaring Sonya dengan daster tipisnya yang agak tersingkap di bagian paha, sehingga kini bisa kulihat kulit pahanya yang mulus dan sekilas celana dalam pinknya yang begitu sexy menggoda. Sonya dengan cepat menutup bagian dasternya yang tersingkap tadi dengan gaya yang malu-malu dan memandangku dengan ekspresi wajah yang begitu polos, lugu, imut sambil kemudian menggigit sedikit bibir bawahnya, membuat birahiku bergejolak hebat. Bagaikan orang kelaparan yang dihidangkan santapan lezat di depan matanya aku langsung menciumi perut Tia.
"Aaah.." Tia mulai mendesah.
Hisapan dan jilatanku kembali merambat naik menuju lehernya, kedua daun telinganya yang membuatnya merasa kegelian sehingga ia agak menarik kepalanya menjauhi mulutku. "Abaanghh.. geli.. ahh.." Secara samar kuperhatikan ternyata Sonya kini sedang menghisap sepasang payudara kuncupnya bergantian, itulah sebabnya Tia menjadi agak lepas kontrol.

Kubiarkan Tia menghisap lidahku sepuasnya sementara tanganku kini mulai mengusapi paha dalamnya. Kugetarkan tanganku bagaikan vibrator pada paha dalam Tia sebelah kanan dan hal ini ternyata membuat badan Tia terhentak ke bawah, seakan ingin melepaskan diri dari getaran tanganku dan hisapan Sonya. Tia tidak kuat menerima rangsangan nikmat yang bertubi-tubi seperti itu sehingga ciumannya pun terlepas.
"Aaah.. sshh.. aahh.. hh.. hh.."
Kesempatan itu segera kumanfaatkan untuk berpidah ke posisi. Naluriku mengatakan bahwa Tia tidak akan kuat bertahan lebih lama lagi. Dengan sigap kedua tanganku segera menarik celana dalam putih itu ke bawah. Kubuka kedua pahanya lebar-lebar lalu kukecup dan Tia mulai mendesah.
"Aaah.. abaanghh.. Kak Sonya.. hh.. hh.. hh.."
Tia mengangkat-angkat pinggulnya sementara Sonya masih tetap menghisapi payudaranya dan tak lama, "Aaah.. abaanghh.. Tia mau pipiiss.. hh.. hh.."
Kuredam hentakan pinggulnya.
"Aaah.. abaanghh.."

Akhirnya tubuh Tia bergetar kenikmatan walau agak tertahan oleh tanganku dan tubuh Sonya. Setelah gerakan Tia terhenti, aku memberikan Sonya French Kiss. Sonya menyambut ciumanku dengan penuh antusias, kemudian kami pun berbaring di sisi kanan dan kiri Tia sambil memeluk tubuh kecil itu yang kini terkulai lemas untuk memberinya kehangatan. Aku tersenyum lalu berkata, "Nah, sekarang giliran Sonya dan abang!" kataku semangat.

Segera kubuka daster tipis Sonya lalu kurebahkan kembali seraya memberinya ciuman penuh nafsu. Tanganku dengan cepat kini mulai menggerayangi bukit kembarnya yang indah dan mulai menggetarkannya. Dapat kurasakan Sonya berusaha untuk bersikap kuat dengan mampu bertahan, tetapi aku bisa mengetahuinya bahwa dia berusaha mati-matian untuk menahan rangsangan tanganku pada payudaranya melalui dengusan nafasnya yang mulai tidak terkontrol serta hisapannya pada lidahku yang menjadi begitu kuat.

Tangan kananku segera kuarahkan ke paha dalam bagian kanan, kubelai-belai lalu kugetarkan di bagian yang paling dekat dengan daerah paling femininnya yang masih tertutup celana dalam tipisnya sehingga getaran tanganku juga turut menggetarkan dengan daerah femininnya yang mulai basah itu.
"Aaahh.. hh.. hh.." Sonya akhirnya melepaskan hisapannya karena tidak kuat menahan nikmatnya rangsanganku di tiga tempat sekaligus itu. Inilah kesempatan emasku untuk berpindah posisi dan memberinya oral, segera kugigit karet celana dalamnya dan kutarik ke bawah. Begitu terlihat belahan vertikalnya aku agak terkejut sekaligus bahagia, karena ternyata daerah itu telah kembali bersih. Bulu-bulu halus yang kemarin-kemarin masih kulihat itu kini telah hilang, bersih dan halus seperti milik Tia.

Ini merupakan sebuah hadiah kejutan kedua yang istimewa bagiku. Kubuka lidahku lebar-lebar agar dapat mengusap bagian bibir vertikalnya yang menggairahkan dan sangat feminin itu. Hisapan kumulai dari paha kiri bagian dalam, merambat naik lalu ke paha dalam bagian kiri tanpa menyentuh vaginanya. Setelah beberapa saat menikmati pahanya barulah ciuman dan hisapan kuarahkan untuk memberikan rangsangan kontinyu pada bagian klitorisnya, sementara kedua tanganku yang menyusup dari bawah kedua pahanya sudah berada pada pada bukit kembarnya dan siap memberikan getaran yang dahsyat.

Tia yang masih berbaring di samping Sonya hanya bisa memperhatikan aktivitas kami sambil memegang tangan dan membelai rambut kakaknya yang tengah kubuat melayang di angkasa merasakan nikmat surga duniawi.
"Aaahh.. aah.. shh.. ouuhh.. hh.. hh.. hh" Sonya mendesah tak karuan kala aku menghisap dan memilin-milin klitorisnya.
Kedua pahanya menjepit kepalaku dengan erat, menandakan dirinya amat sangat terangsang oleh apa yang kulakukan. Tanganku mulai kembali menggetarkan bukit kembarnya yang indah itu, selaras dengan hisapan, kecupan dan jilatan yang kulakukan pada klitorisnya.
"Ooouhh.. ooh.. sshh.. aahh.. hh.. hh.. abaanghh.. hh.. hh.. hh" Sonya kembali meracau.

Kecepatan getaran kedua tangan kupercepat begitu pula dengan permainan hisapanku pada klitorisnya. Tubuh Sonya tersentak-sentak hebat, Ia berusaha melepaskan kedua bukit kembarnya dari tanganku dengan menekan badannya ke bawah, namun tidak berhasil. Ia menaik turunkan pinggulnya dengan liar, "Aaah.. abaanghh.. Sonya pipiiss.. oouhh.." Segera kulepas tangan kananku dari payudaranya untuk memberikan belaian pada klitorisnya, sementara mulutku kuarahkan ke lubang vaginanya..
"Abaangh.. shh.. ah.. ah.. ah" akhirnya Sonya pun kutaklukkan.
Desahan Sonya yang begitu menggairahkan terdengar mengiringi deras dan hangatnya cairan orgasmenya yang mengalir keluar dari lubang vaginanya.

Diriku sendiri juga sudah tidak kuat lagi menahan nafsu yang semakin bergejolak dan siap meledak ini, segera aku membuka celana dalamku dan mulai mengocok batangku yang sudah berdiri dengan tegangnya. Kuarahkan batangku ke wajah Sonya agar dia menghisapinya seperti biasa. Keringat deras yang mengucur di badan dan wajahnya, serta tubuhnya yang kini terlihat lemas sehabis dilanda getar orgasme hebat tadi menjadikan diriku tidak tega untuk memintanya menghisapi batangku. Akhirnya kuputuskan untuk mengocok sendiri dan mengeluarkannya di dada Sonya. Tidak lama kemudian aku mengalami orgasme dan ejakulasi hebat, spermaku muncrat dengan keras membasahi dada Sonya.

Aku pun terkulai lemas di tempat tidur di samping tubuh Sonya. Kami bertiga saling berpelukan dan berciuman dengan hangatnya di atas tempat tidur besar milik orang tuanya itu. Setelah puas berciuman, kuajak mereka mandi, membersihkan diri bersama dengan air hangat.

Selesai mandi dan berganti pakaian dengan piyama baru, kami pun kembali naik ke tempat tidur besar itu untuk beristirahat dan saling berpelukan dengan penuh kehangatan.
"Sonya hebat, abang kaget sekali lho tadi, kok bisa bersih dan sehalus itu, gimana caranya yaa?" tanyaku menggodanya.
"Ah abang, itu khan rahasia wanita" jawabnya sambil melihat ke arahku dan tersenyum manis.
"Pokoknya dari sekarang Sonya pasti akan selalu mempraktekkan nasehat-nasehat abang!" lanjutnya.
Kukecup bibirnya yang sexy itu dengan lembut.
"Tia juga, malam ini hebaat sekali, abang nggak nyangka lho" kataku lagi pada Tia.
"Tia khan sayang sama abang" jawabnya simpel penuh pengertian, sambil memelukku dengan erat. Kucium rambutnya yang harum lalu kupeluk kedua bidadariku itu dengan penuh kasih. Kami pun lalu terlelap dalam mimpi yang damai dan indah di malam yang sangat luar biasa itu.

"Tinit.. tinit.. tinit.." Pagi itu sekitar pukul tiga dinihari aku terbangun mendengar suara weker yang sudah sengaja kuaktifkan semalam. Bergegas kumatikan weker lalu kugendong bidadariku satu per satu menuju ranjang mereka masing-masing, kuselimuti mereka, kemudian aku kembali ke kamar ortunya untuk mengganti sprei, sarung bantal dan guling dengan yang baru. Hal ini kulakukan untuk menghindari prasangka yang tidak-tidak dari si Was jika pagi nanti ia mendapati kami bertiga tidur seranjang di kamar bapak dan ibu Sis, terlebih hari ini mereka akan kembali ke rumah. Setelah semuanya selesai, aku kembali ke kamarku untuk kembali beristirahat.

Siang harinya, Sonya sibuk di dapur dibantu oleh Tia dan si Was membuat kue untuk menyambut kedatangan kedua orangtuanya, sedangkan aku ikut membantu dengan membelikan semua bahan-bahan yang mereka butuhkan untuk membuat kue di supermarket. Sore harinya barulah kue "selamat-datang" buatan Sonya dan Tia itu jadi dan siap saji, setelah itu kami menonton film-film VCD kartun koleksi kesukaan Tia dan Sonya sambil menunggu orangtuanya tiba di rumah.

Sekitar pukul 19.30, kedua ortunya tiba di rumah dan kami menyambutnya langsung di halaman depan. Denga sigap kubuka pintu taksi yang mengantarkan kedatangan bapak dan ibu Sis, mereka keluar dan menyalamiku dengan wajah yang berseri-seri, lalu memeluk erat kedua putri kecilnya untuk melepaskan rasa rindu yang selama ini menjadi beban selama berada di Australia. Segera kuangkat seluruh barang bawaan bapak dan ibu Sis dari taksi ke dalam rumah, dibantu oleh si Was. Suasana di dalam rumah dipenuhi kebahagiaan, Sonya dan Tia kini memberikan hasil karya mereka berupa kue "selamat-datang" kepada ayah dan ibunya. Mereka berbagi hadiah, pelukan kasih, canda dan tawa serta cerita, tapi tentunya rahasia kami tetap terjaga dengan baik.

Hubunganku dengan Pak Sis sekeluarga tetap berjalan dengan baik, khususnya dengan Sonya dan Tia, namun semenjak saat itu aktivitas ranjang kami bertiga jadi sangat tersendat dikarenakan oleh kesibukanku mempersiapkan diri untuk ujian-ujian dan Ebtanas. Seperti yang sudah kupersiapkan sebelumnya bahwa ketika aku tidak di tempat atau berhalangan, maka mereka berdua bisa saling mereguk kenikmatan tanpa diketahui papa dan mamanya dan juga tanpa harus minta bantuan dari laki-laki lain yang pasti akan menghancurkan segalanya. Aku mengetahuinya karena mereka selalu mengajakku dan jika aku memang tidak bisa karena terpaksa harus nginap di rumah teman untuk belajar bareng misalnya, maka Sonya ataupun Tia akan memberikan laporan aktivitas erotis mereka berdua dengan begitu membangkitkan gairahku dan membuatku hanya bisa menelan ludah, merasa sangat iri dan menyesal karena tidak bisa turut berpartisipasi, tapi apa mau dikata..

Hubunganku dengan Melati pun sudah semakin erat dan ia juga sudah kukenalkan pada kedua bidadariku, bahkan ia bisa menjadi akrab dengan mereka.

Semua hal terindah itu hanya bertahan sampai aku lulus SMA saja, karena aku harus pindah ke ibukota untuk melanjutkan pendidikan sedangkan Pak Sis dan keluarga harus pindah ke Autralia karena bisnis yang ia tangani berkembang pesat dan sukses besar. Hubunganku dengan Melati pun terpaksa putus dengan baik-baik karena kepindahanku, tapi sebagai teman, ia masih rajin menghubungiku. Inilah kehidupan, realita yang sungguh sangat disayangkan bahwa segala sesuatu yang berawal dengan indah harus berakhir dengan kepedihan. Sekarang, semua manis pahitnya pengalamanku, hanyalah menjadi sebuah, kenangan..

Indahnya Tubuh Anak Pelangganku - 01

Suatu hari aku mendapat perintah dari boss untuk mendatangi rumah Ibu Yuli, menurutnya antena parabola Ibu Yuli rusak tidak keluar gambar gara-gara ada hujan besar tadi malam. Dengan mengendarai sepeda motor Yamaha, segera aku meluncur ke alamat tersebut. Sampai di rumah Ibu Yuli, aku disambut oleh anaknya yang masih SMP kelas 2, namanya Anita. Karena aku sudah beberapa kali ke rumahnya maka tentu saja Anita segera menyuruhku masuk. Saat itu suasana di rumah Ibu Yuli sepi sekali, hanya ada Anita yang masih mengenakan seragam sekolah, kelihatannya dia juga baru pulang dari sekolah.

"Jam berapa sich Ibumu pulang, Nit..?"
"Biasanya sih yah, sore antara jam 5-an," jawabnya.
"Iya, tadi Oom disuruh ke sini buat betulin parabola. Apa masih nggak keluar gambar..?"
"Betul, Oom.. sampai-sampai Nita nggak bisa nonton Diantara Dua Pilihan, rugi deh.."
"Coba yah Oom betulin dulu parabolanya.." Lalu segera aku naik ke atas genteng dan singkat kata hanya butuh 20 menit saja untuk membetulkan posisi parabola yang tergeser karena tertiup angin.

Nah, awal pengalaman ini berawal ketika aku akan turun dari genteng, kemudian minta tolong pada Anita untuk memegangi tangganya. Saat itu Anita sudah mengganti baju seragam sekolahnya dengan kaos longgar ala Bali. Kedua tangan Anita terangkat ke atas memegangi tangga, akibatnya kedua lengan kaosnya merosot ke bawah, dan ujung krahnya yang kedodoran menganga lebar. Pembaca pasti ingin ikut melihat karena dari atas pemandangannya sangat transparan. Ketiak Nita yang ditumbuhi bulu-bulu tipis sangat sensual sekali, lalu dari ujung krahnya terlihat gumpalan payudaranya yang kencang dan putih mulus. Batang kemaluanku seketika berdenyut-denyut dan mulai mengeras. Sebuah pemandangan yang merangsang. Anita tidak memakai BH, mungkin gerah, payudaranya berukuran sedang tapi jelas kelihatan kencang, namanya juga payudara remaja yang belum terkena polusi. Dengan menahan nafsu, aku pelan-pelan menuruni tangga sambil sesekali mataku melirik ke bawah. Anita tampak tidak menyadari kalau aku sedang menikmati keindahan payudaranya. Tapi yah.. sebaiknya begitu. Gimana jadinya kalau dia tahu lalu tiba-tiba tangganya dilepas, dijamin minimal pasti patah tulang. Yang pasti setelah selamat sampai ke bumi, pikiranku jadi kurang konsentrasi pada tugas.

Aku baru menyadari kalau sekarang di rumah ini hanya ada kami berdua, aku dan seorang gadis remaja yang cantik. Anita memang cantik, dan tampak sudah dewasa dengan mengenakan baju santai ketimbang seragam sekolah yang kaku. Seperti biasanya, mataku menaksir wanita habis wajah lalu turun ke betis lalu naik lagi ke dada. Kelihatannya pantas diberi nilai 99,9. Sengaja kurang 0,1 karena perangkat dalamnya kan belum ketahuan.

"Oom kok memandang saya begitu sih.. saya jadi malu dong.." katanya setengah manja sambil mengibaskan majalah ke mataku.
"Wahh.. sorry deh Nit.. habis selama ini Oom baru menyadari kecantikanmu," sahutku sekenanya, sambil tanganku menepuk pipinya.
Wajah Anita langsung memerah, barangkali tersinggung, emang dulu-dulunya nggak cakep.
"Idihh.. Oom kok jadi genit deh.." Duilah senyumnya bikin hati gemas, terlebih merasa dapat angin harapan.

Setelah itu aku mencoba menyalakan TV dan langsung muncul RCTI Oke. Beres deh, tinggal merapikan kabel-kabel yang berantakan di belakang TV.

"Coba Nit.. bantuin Oom pegangin kabel merah ini.."
Dan karena posisi TV agak rendah maka Anita terpaksa jongkok di depanku sambil memegang kabel RCA warna merah. Kaos terusan Anita yang pendek tidak cukup untuk menutup seluruh kakinya, akibatnya sudah bisa diduga. Pahanya yang mulus dan putih bersih berkilauan di depanku, bahkan sempat terlihat warna celana dalam Anita. Seketika jantungku seperti berhenti berdetak lalu berdetak dengan cepatnya. Dan bertambah cepat lagi kala tangan Anita diam saja saat kupegang untuk mengambil kabel merah RCA kembali. Punggung tangannya kubelai, diam saja sambil menundukkan wajah. Aku pun segera memperbaiki posisi. Kala tangannya kuremas Anita telah mengeluarkan keringat dingin. Lalu pelan-pelan kudongakkan wajahnya serta kubelai sayang rambutnya.

"Anita, kamu cantik sekali.. Boleh Oom menciummu?" kataku kubuat sesendu mungkin.
Anita hanya diam tapi perlahan matanya terpejam. Bagiku itu adalah jawaban. Perlahan kukecup keningnya lalu kedua pipinya. Dan setengah ragu aku menempelkan bibirku ke bibirnya yang membisu. Tanpa kuduga dia membuka sedikit bibirnya. Itu pun juga sebuah jawaban. Selanjutnya terserah anda.

Segera kulumat bibirnya yang empuk dan terasa lembut sekali. Lidahku mulai menggeliat ikut meramaikan suasana. Tak kuduga pula Anita menyambut dengan hangat kehadiran lidahku, Anita mempertemukan lidahnya dengan milikku. Kujilati seluruh rongga mulutnya sepuas-puasnya, lidahnya kusedot, Anita pun mengikuti caraku.

Pelan-pelan tubuh Anita kurebahkan ke lantai. Mata Anita menatapku sayu. Kubalas dengan kecupan lembut di keningnya lagi. Lalu kembali kulumat bibirnya yang sedikit terbuka. Tanganku yang sejak tadi membelai rambutnya, rasanya kurang pas, kini saat yang tepat untuk mulai mencari titik-titik rawan. Kusingkap perlahan ujung kaosnya mirip ular mengincar mangsa. Karena Anita memakai kaos terusan, pahanya yang mulus mulai terbuka sedikit demi sedikit. Sengaja aku bergaya softly, karena sadar yang kuhadapi adalah gadis baru berusia sekitar 14 tahun. Harus penuh kasih sayang dan kelembutan, sabar menunggu hingga sang mangsa mabuk. Dan kelihatannya Anita bisa memahami sikapku, kala aku kesulitan menyingkap kaosnya yang tertindih pantat, Anita sedikit mengangkat pinggulnya. Wah, sungguh seorang wanita yang penuh pengertian.

"Ahh.. Ahh.." hanya suara erangan yang muncul dari bibirnya kegelian ketika mulutku mulai mencium batang lehernya. Sementara tanganku sedikit menyentuh ujung celana dalamnya lalu bergeser sedikit lagi ke tengah. Terasa sudah lembab celana dalam Anita. Tanganku menemukan gundukan lunak yang erotis dengan belahan tepat ditengah-tengahnya. Aku tak kuasa menahan gejolak hati lagi, kuremas gemas gundukan itu. Anita memejamkan matanya rapat-rapat dan menggigit sendiri bibir bawahnya.

Hawa yang panas menambah panas tubuhku yang sudah panas. Segera kulucuti bajuku, juga celana panjangku hingga tinggal tersisa celana dalam saja. Tanpa ragu lagi kupelorotkan celana dalam Anita. Duilah.. Baru kali ini aku melihat bukit kemaluan seindah milik Anita. Luar biasa.. padahal belum ada sehelai bulu pun yang tumbuh. Bukitnya yang besar putih sekali. Dan ketika kutekuk lutut Anita lalu kubuka kakinya, tampak bibir kemaluannya masih bersih dan sedikit kecoklatan warnanya. Anita tidak tahu lagi akan keadaan dirinya, belaianku berhasil memabukkannya. Ia hanya bisa medesah-desah kegelian sambil meremasi kaosnya yang sudah tersingkap setinggi perut. Begitulah wanita. Gam-gam-sus (gampang gampang susah) apa sus-sus-gam (susah susah gampang).

Tidak sabar lagi aku membiarkan sebuah keindahan terbuka sia-sia begitu saja. Aku segera mengarahkan wajahku di sela-sela paha Anita dan menenggelamkannya di pangkal pertemuan kedua kakinya. Mulutku kubuka lebar-lebar untuk bisa melahap seluruh bukit kemaluan Anita. Bau semerbak tidak kuhiraukan, kuanggap semua kemaluan wanita yah begini baunya. Lidahku menjuluri seluruh permukaan bibir kemaluannya. Setiap lendir kujilati lalu kutelan habis dan kujilati terus. Kujilati sepuas-puasnya seisi selangkangan Anita sampai bersih. Lidahku bergerak lincah dan keras di tengah-tengah bibir kemaluannya. Dan ketika lidahku mengayun dari bawah ke atas hingga tepat jatuh di klitorisnya, Kujepit klitorisnya dengan gemas dan lidahku menjilatinya tanpa kompromi. Anita tak sanggup lagi untuk berdiam diri. Badannya memberontak ke atas-bawah dan bergeser-geser ke kiri-kanan. Segala ujung syarafnya telah terkontaminasi oleh kenikmatan yang amat sangat dashyat. Sebuah kenikmatan yang bersumber dari lidahku mengorek klitorisnya tapi menyebar ke seantero tubuhnya. Anita sudah tidak mengenal lagi siapa dirinya, boro-boro mikir, untuk bernafas saja tidak bisa dikontrol. Aku jadi semakin ganas dan melupakan softly itu siapa.

Batang kejantananku sudah amat sangat besar bergemuruh seluruh isinya. Demi melihat Anita tersenggal-senggal, segera kutanggalkan modal terakhirku, celana dalam. Tanpa ba. bi. bu. be. bo segera kuarahkan ujung kemaluanku ke pangkal selangkangan Anita. Sekilas aku melihat Anita mendelik kuatir melihat perubahan perangaiku. Batang kemaluanku memang kelewatan besarnya belum lagi panjangnya yang hampir menyentuh pusar bila berdiri tegak. Anita kelihatannya ngeri dan mulai sadar ingatannya, kakinya agak tegang dan berusaha merapatkan kedua kakinya.

"Ampun Oom.. jangan Ooomm.. ampun Oomm.jangann.." Tangan Anita mencoba menghalau kedatangan senjataku yang siap mengarah ke pangkal pahanya.

Merasa mendapat perlawanan, sejenak aku jadi agak bingung, tapi untunglah aku memiliki pengalaman yang cukup untuk menghadapinya. Segera aku meminta maaf sambil tanganku kembali membelai rambutnya yang terurai agak acak-acakan.

"Nita takut Oom. Nanti kalau Mama tahu pasti Nita dimarahin. Dan lagi Nita nggak pernah kayak ginian. Nita juga jadi malu.." Katanya setengah mau menangis dan membetulkan kaosnya untuk menutupi tubuhnya.
"Jangan kuatir Nit. Oom tidak bermaksud jahat terhadap kamu. Oom sayang sekali sama Nita. Dan lagi Nita jangan takut sama Oom. Semua orang cepat atau lambat pasti akan merasakan kenikmatan hubungan 'beginian'. Jangan takut 'beginian' karena 'beginian' itu enak sekali."
"Iya, tapi Nita nggak tahu harus bagaimana dan kenapa tahu-tahu Nita jadi begini..?" Air mata Anita mulai mengalir dari pojok matanya. Melihat itu aku segera memeluknya agar bisa menenangkannya.

Agak lama aku memberi ceramah dan teori edan secara panjang lebar, sampai akhirnya Anita bisa memahami seluruhnya. Dan sesekali senyumnya mulai muncul lagi.

"Coba sekarang Nita belajar pegang 'anunya' Oom, bagus khan," aku meraih tangannya lalu membimbingnya ke batang kejantananku. Tangannya kaku sekali tapi setelah perlahan-lahan kuelus-eluskan pada batang kejantananku, otot tangannya mulai mengendor. Lalu tangannya mulai menggenggam batang kejantananku. Pelan-pelan tangannya kutuntun maju-mundur. Kelembutan tangannya membuat batang kejantananku mulai bergerak membesar, sampai akhirnya tangan Anita tidak cukup lagi menggenggamnya. Dan Anita kelihatan menikmatinya, tanpa kuajari lagi tangannya bergerak sendiri.

"Ahh.. enak sekali Nit.. aahh.. kamu memang anak yang pintar.. ahh.." mulutku tak sanggup menahan kenikmatan yang mulai menjalari seluruh syarafku. Sementara itu tangan kiriku mulai meremas payudaranya yang masih tertutup kaos Bali yang tipis. Belum pernah aku meremas payudara sekeras milik Anita. Tangan kananku yang satu meraih kepalanya lalu dengan cepat kulumat bibirnya. Lidahku menjulur keluar menelusuri setiap sela rongga mulutnya. Hingga akhirnya lidah Anita pun mengikuti yang kulakukan. Dari matanya yang terpejam aku bisa merasakan kenikmatan tengah membakar tubuhnya.

Segera aku meminta Anita untuk melepas kaosnya agar lebih leluasa. Dan tanpa ragu-ragu Anita segera berdiri lalu menarik kaosnya ke atas hingga melampaui kepalanya. Batang kejantananku semakin berdenyut-denyut menyaksikan tubuh mungil Anita tanpa mengenakan selembar benang. Tubuhnya yang sintal dan putih bersih membakar semangatku. Betul-betul sempurna. Kedua payudaranya menggelembung indah dengan puting yang mengarah ke atas mengingatkanku pada payudara Holly Hart (itu lho salah satu koleksi Playboy).

"Nit, tubuhmu luar biasa sekali.. Hebat!" Pujianku membuat wajahnya memerah barangkali menahan malu.
"Oomm, boleh nggak Anita mencium 'itu'nya Oom?" Anita tersipu-sipu menunjuk ke selangkanganku. Rasanya tidak etis kalau aku menolaknya. Lalu sambil duduk di sofa aku menelentangkan kedua kakiku.
"Tentu saja boleh kalau Anita menyukainya.." Kubikin semanis mungkin senyumku. Anita pun mengambil posisi dengan berjongkok lalu kepalanya mendekati selangkanganku. Mulanya hanya mencium dan mengecup seputar kepala batang kejantananku. Pelan-pelan lidahnya mulai ikut berperan aktif menjilat-jilatinya. Anita kelihatan keenakan mendapat mainan baru. Dengan rakus lidahnya menyusuri sekeliling batang kejantananku. Sensasi yang luar biasa membuatku gemas meremasi kedua payudaranya.

"Aaduuhh.. enak sekali Nit.. Teruss.. Nitt, coba ke sebelah sini," kataku sambil menunjuk ke buah pelirku. Anita segera paham lalu mejulurkan lidahnya ke pelirku. Anita menggerakkan lidahnya ke kanan-kiri atas-bawah.
"Oomm, ke kamar Nita aja yuk biar nggak gerah.." Sahutnya mengajak ke kamarnya yang ber-AC.
"Terserah Nita aja dehh.." balasku.
Begitu Anita merebahkan tubuhnya ke spring bed, aku tidak mau menunggu terlalu lama untuk merasakan tubuh indahnya. Segera kutindih dan kucumbui. Sekujur tubuhnya tak ada yang kusia-siakan. Terutama di payudaranya yang aduhai. Tanganku seakan tak pernah lepas dari liang kewanitaannya. Setiap tanganku menggosok klitorisnya, tubuh Anita menggerinjal entah mengapa. Sementara itu batang kejantananku seperti akan meledak menahan tekanan yang demikian besarnya.

Bersambung ke bagian 02

Indahnya Tubuh Anak Pelangganku - 02


Sambungan dari bagian 01

Akhirnya kutuntun batang kejantananku ke arah liang kewanitaan Anita. Liang kewanitaan Anita yang telah kebanjiran sangat berguna sekali, bibir kemaluannya yang kencang memudahkan batang kejantananku menyelinap ke dalam. Sedikit-sedikit kudorong maju. Dan setiap dorongan membuat Anita meremas kain sprei. Kalau Anita merasa seperti kesakitan aku mundur sedikit, lalu maju lagi, mundur sedikit, maju lagi, mundur, maju, mundur, maju, "bless.." Tak kusangka liang kewanitaan Anita mampu menerima batang kejantananku yang keterlaluan besarnya. Begitu amblas seluruh batang kejantananku, Anita menjerit kesakitan. Aku kurang menghiraukan jeritannya. Kenikmatan yang tak ada duanya telah merasuki tubuhku. Tapi aku tetap menjaga irama permainanku maju-mundur dengan perlahan. Menikmati setiap gesekan demi gesekan. Liang senggama Anita sempit sekali hingga setiap berdenyut membuatku melayang. Denyutan demi denyutan membuatku semakin tak mampu lagi menahan luapan gelora persetubuhan. Terasa beberapa kali Anita mengejankan liang kewanitaannya yang bagiku malah memabukkan karena liang kewanitaannya jadi semakin keras menjepit batang kejantananku. Erangan, rintihan, dan jeritan Anita terus menggema memenuhi ruangan. Rupanya Anita pun menikmati setiap gerakan batang kejantananku. Rintihannya mengeras setiap batang kejantananku melaju cepat ke dasar liang senggamanya. Dan mengerang lirih ketika kutarik batang kejantananku. Hingga akhirnya aku sudah tidak bisa bertahan lebih lama lagi.

Ketika batang kejantananku melaju dengan kecepatan tinggi, meledaklah muatan di dalamnya. batang kejantananku menghujam keras, dan kandas di dasar jurang. Anita pun melengking panjang sambil mendekap kencang tubuhku, lalu tubuhnya bergetar hebat. Sebuah kenikmatan tanpa cela, sempurna.

Keesokkan harinya aku mendapat telepon dari Ibu Yuli. Perasaanku mendadak tegang dan kacau, kuatir beliau mengetahui skandalku dengan anaknya. Mulanya aku tidak berani menerimanya, tapi daripada Ibu Yuli nanti ngomongin semua perbuatanku pada teman sekerjaku, terpaksa kuterima teleponnya dengan nada gemetar.

"Halloo.. apa kabar Bu Yuli."
"Oh baik, terima kasih lho, parabola Ibu sekarang sudah bagus, dan sekalian Ibu mau nanyakan ongkos servisnya berapa.. "
"Ah. nggak usah deh, Bu.. Cuman rusak sedikit kok, hanya karena kena angin jadi arahnya berubah."
"Jangan begitu, nanti Ibu nggak mau nyervis ke tempatmu lagi lho."
"Wah.. tapi saya cuman sebentar saja kerjanya."
"Iya, bagaimanapun khan kamu sudah keluar keringat, jadi ibu mesti bayar. Nanti siang yach, kamu ke rumah ibu. Ibu tunggu lho."
"Iya dech kalau Ibu maunya begitu, tapi sebelumnya terima kasih, Bu."

Begitulah akhirnya aku nongol lagi di rumah Ibu Yuli. Lagi-lagi Nita yang menerimaku.
"Wah, terlambat Oom. Ibu dari tadi nungguin Oom datang. Barusan saja Ibu pergi arisan ke kantornya. Tapi masuk saja Oom, soalnya ada titipan dari ibu."

Sampai di dalam, kelihatannya Nita tengah belajar bersama dengan teman-temannya. Ada 3 orang cewek sebayanya lagi asyik membahas soal Fisika. Dan kedatanganku sedikit memecah konsentrasi mereka. Kuamati sekilas teman Nita kok cakep-cakep yach. Aku membalas sapaan mereka yang ramah.

"Kenalin ini Oom gue yang baru datang dari Jawa Tengah."
Kaget juga aku dikerjain Nita. Satu persatu kusalami mereka, Lusi, Ita, dan Indra. Senyum mereka ceria sekali. Di usia mereka memang belum mengenal kepahitan hidup. Semuanya serba mudah, mau ini tinggal bilang ke mama, mau itu tinggal bilang ke papa. Dasar anak keju. Ketiganya memang jelas kelihatan anak orang kaya. Penampilan, gaya, dan kulit mulus mereka yang membedakan dari orang miskin. Lusi punya lesung pipit seperti aktris Italy. Ita wajahnya mengingatkanku pada seorang aktris sinetron yang lemah lembut, tapi yang ini agak genit. Indra yang berbadan paling besar mirip seorang aktris Mandarin. Persis aktris-aktris lagi makan rujak bareng. Habis aku paling bingung kalau mendeskripsikan wanita cantik, rasanya nggak cukup selembar folio.

Aku menurut saja ketika tanganku di seret ke dalam oleh Nita sambil berpamitan pada temannya mau mengantar Oomnya ke kamar. Dan setelah mengunci pintu kamar, kekagetanku tambah satu lagi. Tubuhku langsung direbahkan ke kasur, lalu menindihku sambil mulutnya menciumiku.

"Oom, Nita mau lagi." rengeknya manja. Ya, ampun sungguh mati aku nggak bisa menolaknya. Aku pun segera membalas ciumannya. Nafsu birahiku menanjak tajam. Anita yang masih mengenakan seragam SMP-nya terguling ke samping hingga giliranku yang di atas. Kancing bajunya satu demi satu kulepas. Buah dadanya yang terbungkus BH kuremas dengan gemas. Dari leher hingga perutnya kutelusuri agak brutal. Dan Nita yang meronta-ronta tak kuberi ampun sedikitpun. Kakinya mengangkang lebar kala tanganku mulai merambat ke atas pahanya dan berhenti tepat di tengah selangkangan. Gundukan kemaluan yang empuk membuat tanganku gemetar kala meremasnya. Dan jari tengahku mencongkel sebuah liang yang menganga di tengahnya. Celana dalam Nita mulai lembab kelihatannya tak tahan menghadapi serangan yang bertubi-tubi.

Akupun sangat merindukan Nita, hingga rasanya tak sabar lagi untuk segera menancapkan batang kemaluanku. Segera kupeloroti celana dalamnya setelah roknya kusingkap ke atas. Kerinduan akan baunya yang khas membuat kepalaku tertarik ke arah kemaluan Nita, lalu kubenamkan di sela pahanya. Mulutku memperoleh kenikmatan yang tiada tara kala mengunyah dan memainkan bibirku pada bibir kemaluannya. Nita pun semakin menggila gerakannya apalagi bila lidahku mengorek-ngorek isi kemaluannya. Nikmat sekali rasanya. Klitorisnya yang menyembul kecil jadi sasaran bila Nita menghentak badannya ke atas. Sepertinya Nita sudah 'out of control' karena tangannya dengan kacau meremas segala yang dapat diraih. Demikian juga halnya denganku, entah berapa cc cairan memabukkan yang telah kureguk.

Batang kemaluanku yang sudah 'maximal' kuarahkan ke liang senggama Nita. Sekilas kulihat Nita menggigit bibirnya sendiri menanti kedatangan punyaku. Akupun tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang sangat langka ini. Benar-benar kunikmati tiap tahapan batangku melesak ke dalam liang kemaluannya. Sedikit demi sedikit batang kemaluanku kutekan ke bawah. Indah sekali menyaksikan perubahan wajah Nita kala makin dalam kemaluanku menelusuri liang kemaluannya. Akhirnya, "Bless.."

Habis sudah seluruh batang kemaluanku terbenam ke liang kenikmatannya. Selanjutnya dengan lancar kutarik dan kubenamkan lagi. Makin lama makin asyik saja. Memang luar biasa kemaluan Nita, begitu lembut dan mencengkeram. Ingin rasanya berlama-lama dalam liang kemaluannya. Semakin lama semakin dahsyat aku menghujamkan batangku sampai Nita menjerit tak kuasa menahan kenikmatan yang menjajahnya. Hingga akhirnya Nita berkelojotan sambil meremas ganas rambutku. Wajahnya tersapu warna merah seakan segenap pembuluh darahnya menegang kencang, hingga mulutnya meneriakkan jeritan yang panjang. Kiranya Nita tengah mengalami puncak orgasme yang merasuki segenap ujung syarafnya.

Menyaksikan pemandangan seperti ini membuatku makin cepat mengayunkan batang kemaluanku. Dan rasanya aku tak bisa menahan lebih lama lagi, lebih lama lagi.., lebih lama lagi. Secepatnya kucabut batang kemaluanku dan segera kuarahkan ke mulut Nita. Nita agak gugup menerima batang kemaluanku. Tapi nalurinya bekerja dengan baik, mulutnya segera menganga dan langsung mengulum batang kemaluanku. Dan kala aku meledakkan lahar, lidahnya menjilati sekujur batang kemaluanku. Tubuhku rasanya langsung luruh, tenagaku terkuras habis-habisan. Beberapa kali batang kemaluanku mengejut dan mengeluarkan lahar. Oh, my God..

Keasyikanku berdua dengan Nita membuat kami tidak merasakan jam yang terus berjalan. Tidak terasa hampir 3 jam kami meninggalkan teman-teman Nita di luar. Sekilas terdengar suara kasak-kusuk, seperti ada orang lagi mengintip perbuatan kami. Tapi saking asyiknya menikmati tubuh Nita, aku jadi tak mempedulikannya. Kulirik Nita masih tergolek tanpa penutup apa-apa dengan tubuh terlentang kelelahan. Wajahnya yang terlihat polos sangat indah dengan paduan tubuh kecil yang mulus. Kakinya masih membuka lebar, seperti sengaja memamerkan keindahan lekukan di selangkangannya. Gundukan kemaluannya memang belum berbulu sehingga jelas kelihatan bibir kemaluannya yang merah muda.

"Nit, teman-temanmu kelihatannya lagi pada ngintip lho." kataku berbisik di telinganya.
"Hehh..?" jawabnya sambil segera menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Teman-temanmu.." sekali lagi aku meyakinkannya sambil menunjuk ke pintu.
"Wwaduhh, gimana nich.. Oom."
"Tenang aja, cepat pakai baju lagi dan seakan-akan nggak ada apa-apa, okey?"
"Tapi Nita jadi malu sama mereka dong," katanya manja dan wajahnya berubah merah sekali.
"Sudah dech jangan dipikirin, anggap aja kita nggak tahu kalau mereka pada ngintip."

Akhirnya kami keluar kamar juga, dan teman-teman Nita kelihatan sekali pura-pura sibuk mengerjakan soal-soal. Terlebih wajah mereka bertiga tersapu rona merah, dan tampak menahan senyum. Wah agak grogi juga aku untuk menyapa mereka. Sekali lagi aku tertolong oleh usiaku yang jauh di atas mereka. Kata orang langkah awal memang sulit untuk dilakukan.

"Hallo, belum selesai nich soal-soalnya?" kata awal yang akhirnya meluncur juga.
"Iya Oomm.." seperti koor mereka menjawab serentak. Dan makin memperlihatkan kegugupan mereka.
Boleh juga nich. Dan ide-ide cemerlang pun segera bermunculan, barangkali tidak terpikirkan oleh seorang Einstein.
"Sebaiknya istirahat dulu biar fresh pikiran kita, jadi nanti kita akan dengan mudah mengerjakan soal-soal rumit kayak gitu," Saranku menirukan seorang psikiater. Sebab menurut hematku mereka pasti juga turut terangsang mengintip perbuatan kami. Dengan kata lain mereka menyetujui perbuatan itu, kalau nggak setuju yach jelas nggak mau ngintip. Jadi kesimpulannya kalau mereka mau mengintip berarti juga mau untuk berbuat seperti itu.

"Begini, Oom tahu kalau kalian tadi ngintip Oom di kamar. Tapi kalian tidak perlu kuatir sama Oom. Oom nggak marah kok. Malah senang bisa memberi kalian pelajaran baru. Tapi Oom juga kepingin lihat kalian telanjang juga dong, biar adil namanya. Iya, nggak.?"
Seketika wajah mereka bertambah merah padam, antara malu dan takut.
"Maaf Oom, tadi kami tidak sengaja mengintip." kata Indra ketakutan sambil merapatkan pahanya.
"Baiklah kalau begitu Oom tidak mau memaksa kalian, Oom juga sayang sama kalian. Kalian semua cantik-cantik. Sekarang daripada kalian ngintip, Oom nggak keberatan untuk nunjukin burung oom. Lihat yach dan kalian semua harus memegangnya. Yang nggak mau megang nanti Oom telanjangin!" Suaraku bertambah nada ancaman. Dan aku pun segera membuka reitsleting celana sekaligus memelorotkannya berikut celana dalam, hingga burungku yang ngaceng melihat kepolosan mereka langsung nyelonong keluar. Serempak Indra, Lusi, dan Ita menutup wajah mereka. Aku acuh saja mendekati mereka satu persatu dan menarik tangannya untuk memegang burungku. Mulanya tangan mereka kaku sekali tapi jadi mengendur kala menempel burungku.

Nita yang sedari tadi hanya menonton langsung memprotes kelakuanku.
"Sudahlah Oom jangan begitu, lebih baik kita semua telanjang bersama saja, itu memang yang paling adil. Lagian kita juga sudah biasa mandi bersama kok, iya khan teman-teman."
Indra, Lusi, dan Ita diam saja tampak malu-malu mempertimbangkan tawaran Nita.
"Baiklah karena diam berarti kalian setuju. Ayo dong Lus, biasanya kamu yang paling suka membukakan bajuku." Kata Nita sambil menghampiri lalu merangkul Lusi.
"Iya dech saya setuju, tapi asal yang lain juga setuju lho." Lusi mengumpan lampu kuning.
"Oke, Saya juga setuju agar konsekuen dengan perbuatan kita." Ita menimpalinya.
"Demi kalian aku juga boleh-boleh saja." Akhirnya Indra juga memberi keputusan yang melegakan hatiku.
"Nach begitu baru kompak namanya. Yuk kita bareng-bareng ke kamar aja.." Sahut Nita.

Bersambung ke bagian 03

Indahnya Tubuh Anak Pelangganku - 03




Sambungan dari bagian 02

Jantungku bergerak kencang sekali, membuat langkahku limbung. Di depanku berjalan 4 cewek imut-imut alias ABG, Nita dan ketiga temannya, Indra, Lusi, dan Ita, menuju kamar Nita. Mulanya bingung harus bagaimana, tapi situasi yang memaksaku berbuat spontan saja. Mereka semua kusuruh duduk berjejer di tepi ranjang.

"Begini, kalian semua nggak perlu takut sama Oom. Oom nggak mungkin menyakiti kalian, kita sekarang akan bermain dalam dunia yang baru, yang belum pernah kalian rasakan. Kalian tak perlu malu, kalian tinggal menuruti apa saja yang Oom perintahkan. Sekali lagi rileks saja, anggaplah kita sedang menjalani pengalaman yang luar biasa."
Banyak sekali sambutan pembukaan yang keluar begitu saja dari mulutku, untuk meyakinkan mereka dan agar nanti tidak kacau. Akhirnya mereka menganggukkan kepala satu persatu sebagai tanda setuju. Di wajah mereka mulai muncul senyum-senyum kecil, tetapi jelas tak bisa menyembunyikan rasa malunya. Wajah mereka memerah kala aku mengucapkan kata-kata yang berbau gituan.

Singkat kata kusuruh mereka semua berdiri berhadapan, berpasangan. Nita memilih Indra sebagai pasangannya, sedang Lusi dengan Ita. Padahal batang kejantananku sudah gemetaran ingin segera melabrak mereka, tetapi nalarku yang melarangnya.

"Sekarang kalian coba saling membukakan baju pasangan kalian sampai tinggal BH dan celana dalam saja. Biar nanti sisanya Oom yang bukain."
Mulanya mereka ragu bergerak, untunglah ada Nita yang berpengalaman dan Ita yang agresif sekaligus paling cantik dan menggiurkan. Ita memang lebih menonjol dari semuanya, badannya yang bagus tergambar dalam baju tipisnya, hingga BH-nya menerawang membentuk gundukan yang sempurna. Nita dan Ita tampak tertawa kecil membuka kancing baju temannya yang tak bisa mengelak lagi. Dan tentu saja Indra membalas perbuatan Nita, demikian pula Lusi. Wah, tak kusangka jadi meriah sekali persis seperti lomba makan krupuk. Hatiku bersorak girang melihat mereka saling berebut melepas baju pasangannya. Sementara itu otakku terus berputar mencari solusi terbaik untuk step berikutnya, selalu saja setiap cara ada kemungkinan terjadi penolakan. Sebaiknya harus selembut mungkin tindakanku.

Pasangan Nita dan Indra kelihatan kompak, hingga tak banyak waktu mereka berdua telah telanjang, hanya BH dan celana dalam saja yang menempel di badannya. Untuk Nita tak perlu kuceritakan lagi, lagian para pembaca juga sudah pernah ikut menikmati keindahan tubuhnya pada episode yang lalu. Sedang Indra yang berbadan putih mulus masih malu-malu saja, sambil menutupi selangkangannya dengan tangan kanan ikut menonton Ita dan Lusi yang belum selesai. Sementara itu, Ita dan Lusi sampai bergulingan di lantai. Kelihatannya Lusi menolak dibuka rok bawahnya, tapi Ita tetap ngotot menelanjanginya. Nita dan Indra turut tertawa menonton pergulatan seru itu. Dan karena gemas melihat Ita kewalahan atas pemberontakan Lusi, Nita dan Indra segera bergerak membantu Ita dengan memegangi kaki Lusi yang tengah menendang-nendang. Secepat kilat Ita memelorotkan rok bawah Lusi sampai terlepas.

"Heehh.. kalian curangg.. Nggak mau, Lusi nggak mau sama kalian lagi.." Lusi berteriak dengan sengit dan seperti mau menangis.
"Tenang Lusi, kita kan lagi bersenang-senang sekarang, dan lagi kenapa kamu mesti seperti itu. Bukankah kamu sendiri tadi sudah ikut setuju. Dari tadi kan Oom nggak memaksa kamu. Yang penting kita tidak akan menceritakan kejadian ini pada siapa pun. Hanya kita-kita saja yang tahu. Kalau kamu malu itu salah. Percaya deh sama Oom."

Untunglah saranku kelihatannya dapat diterima, apalagi melihat Ita segera membuka bajunya sendiri yang kusut sekali. Satu persatu kancing bajunya dibuka, dan sekali merosot sekujur keindahan tubuhnya terpampang. Tak kusangka Ita terus melepas BH-nya, kemudian membungkuk dan melepas celana dalamnya. Seketika jantungku berhenti berdetak, seluruh susunan syarafku mengeras, sampai dada ini seperti mau meledak. Sebuah pemandangan yang menakjubkan terpampang begitu saja di depanku.

"Luar biasa.. Hebat.. Nah dengan begini berarti Lusi nggak boleh ngambek lagi lho. Lihat Ita telah membayar kontan. Yuk kalian semua sekarang duduk lagi di ranjang sini." Segera mereka sekali lagi menuruti perintahku. Aneh memang, selama ini aku nggak pernah kenal sama ilmu-ilmu gaib seperti di Mak Lampir, tetapi kenyataannya kok bisa mereka begitu saja patuh padaku.
"Nah sekarang kalian semua berbaring," Mereka patuh lagi. Dengan kaki terjuntai di lantai mereka semua membaringkan tubuhnya.
"Sekarang kalian diam saja, Oom akan memberi sesuatu pengalaman baru seperti yang kalian tonton waktu Oom sama Nita. Kalian tinggal menikmati saja sambil menutup mata kalian biar lebih konsentrasi." Sengaja aku menjatuhkan pilihan pertama pada Lusi.

Perlahan-lahan kubuka celana dalamnya, kakinya agak menegang. Sedikit demi sedikit terus kutarik ke bawah. Segundukan daging mulai terlihat. Detak jantungku kembali berdegup cepat. Dan lepaslah celana dalamnya tanpa perlawanan lagi. Gundukan bukit kecil yang bersih, dengan bulu-bulu tipis yang mulai tumbuh di sekelilingnya, tampak berkilatan di depanku. Sedikit kurentang kedua kakinya hingga terlihat sebuah celah kecil di balik bukit itu. Lalu dengan kedua jempol kubuka sedikit celah itu hingga terlihat semua isinya. Aku sampai menelan air liurku sendiri demi melihat liang kewanitaan Lusi. Kudekatkan kepalaku agar pemandangannya lebih jelas. Dan memang indah sekali. Aku tak bisa menahan lagi, segera kudekatkan mulutku dan kulumat dengan bibir dan lidahku. Rakus sekali lidahku menjilati setiap bagian liang kewanitaan Lusi, rasanya tak ingin aku menyia-nyiakan kesempatan. Dan tiap lidahku menekan keras ke bagian yang menonjol di pangkal liang kewanitaannya, Lusi mendesis kegelian. Kombinasi lidah dan bibir kubuat harmonis sekali. Beberapa kali Lusi mengejangkan kakinya. Aku tak peduli akan semerbak bau yang khas memenuhi seputar mulutku. Malah membuat lidahku bergerak makin gila. Kutekankan lidahku ke lubang liang kewanitaan Lusi yang sedikit terbuka. Rasanya ingin masuk lebih dalam lagi tapi tak bisa, mungkin karena kurang keras lidahku. Hal ini membuat Lusi beberapa kali mengerang keenakan.

"Aduhh.. Oomm.. enakk sekali.. teruss Oomm.. ohh.." Mulut Lusi mendesis-desis keenakan. Dan setiap lidahku menerjang liang kewanitaannya, Lusi menghentakkan pinggulnya ke atas, seakan ingin menenggelamkan lidahku ke dalam liang kewanitaannya. Banyak sekali cairan kental mengalir dari liang kewanitaannya, dan seperti kelaparan aku menelan habis-habisan. Persis seperti orang sedang berciuman, cuma bedanya bibirku kali ini mengunyah bibir liang kewanitaan Lusi hingga mulutku berlepotan lendir.

Ita yang berbaring di sebelah Lusi tampak gelisah, beberapa kali kulihat dia merapat-rapatkan pahanya sendiri. Rupanya dia ikut hanyut melihat permainanku. Diantara mereka berempat, dia memang yang tercantik. Karena itulah mungkin yang membuatnya sedikit genit, lebih matang, dan lebih 'berbulu'. Hebat nian, anak SMP liang kewanitaannya sudah selebat itu. Sambil mulutku bermain di liang kewanitaan Lusi, sedari tadi mataku terus memperhatikan liang kewanitaan Ita. Beberapa kali tanganku ingin meremasnya tapi kuatir kelakuanku bisa mengecewakan Lusi. Habis kalau dia ngambek bisa berantakan. Sebagai kompensasinya tanganku meremasi kedua payudara Lusi yang kecil dan nyaris rata dengan dada. Putingnya yang lembut kugosok-gosok dan kupencet.

"Lus, udah dulu yahh, nanti lain kali Oom lanjutin lagi, yahh." kataku sambil megecup bibirnya. Yang diajak ngomong tidak menjawab, cuma wajahnya jadi merah seperti kepiting rebus. Sekali lagi kukecup di keningnya.

Segera aku bergeser ke sebelah dan langsung menindih tubuh Ita. Ita yang cantik. Ita yang seksi. Walau tengah terlentang, payudaranya tetap tegak ke atas dan diperindah dengan puting yang besar. Kudekatkan bibirku ke bibirnya, langsung menghindar. Barangkali tak tahan mencium aroma liang kewanitaan Lusi. Wajarlah, memang mulutku seperti habis makan jengkol. Segera kuturunkan mulutku ke lehernya, kucumbui semesra mungkin. Ita kegelian. Lalu turun lagi. Sambil kuremasi, payudaranya segera masuk ke mulutku. Kuhisap dan kujilati putingnya. Karuan saja Ita meronta-ronta. Entah kegelian apa keenakan, aku tak peduli. Bergantian kedua payudaranya kujilati semua permukaannya. Nafsuku rasanya sudah di ujung ubun-ubun. Batang kejantananku telah mendongak perkasa sekali, beberapa kali berdenyut minta perhatian. Kalau saja memungkinkan ingin rasanya segera kumasukkan ke liang kewanitaan Ita. Sekali lagi nalarku terkontrol, karena memang aku sudah berjanji pada mereka. Tidak ada liang kewanitaan yang kumasuki batang kejantanan. Lagian memang aku benar-benar ingin semuanya berjalan mulus sesuai rencana. Coba kalau tiba-tiba ada yang menangis karena menyesal memberikan perawan mereka begitu saja padaku. Nggaklah.

Kaki Ita kurenggangkan sedikit. Bukit Berbunganya indah sekali. Yang namanya labia mayora sebetulnya nggak karuan bentuknya tapi selalu memancarkan keajaiban magnetis bagi setiap pria yang memandangnya (tentu yang normal atau paling tidak seperti aku). Barangkali kalau aku yang bikin daftar keajaiban dunia, Labia Mayora menempati urutan teratas. Siapa setuju kirim email, nanti kubawa berkas dukungannya ke Majelis liang kewanitaan Nasional.

Singkat kata segera mulutku kembali beroperasi di wilayah ajaib itu. Pelan-pelan kutarik dengan bibirku kedua labia mayora kepunyaan Ita secara bergantian. Kemudian, lidahku mencongkel keras ke pangkal pertemuan pasangan labia itu, dan berputar-putar di tonjolan daging kecilnya yang konon paling rawan sentuhan. Memang luar biasa efek sampingnya, seketika sekujur tubuh Ita bergoncang. Makin keras goncangannya, makin gila pula lidahku berayun-ayun. Aroma yang khas muncul lagi seiring mengalirnya lendir encer. Harta terpendam inilah yang kucari. Lidahku terus menyongsong ke dalam liang kewanitaan Ita.

Ita yang meronta-ronta menahan gejolak penjarahan liang kewanitaannya, berinisiatif mengambil bantal dan meletakkan di bawah pantatnya. Aku sampai heran perawan kecil ini kok sudah punya insting yang baik. Sambil kedua kakinya nangkring di pundakku, Ita membiarkan aku dengan leluasa menjelajahi seisi liang kewanitaannya. Kali ini lidahku berhasil masuk semua ke dalam liang kewanitaan, enak sekali.

Aku sudah tidak tahan lagi, segera tangan kananku mengocok batang kejantananku sambil segera berpindah ke sebelah lagi. Kali ini giliran Indra yang kelihatannya berdebar-debar menunggu giliran. Itu terlihat dari gerakan matanya yang gelisah. Tanpa basa-basi lagi kuraih sebuah bantal dan kuletakkan di bawah pantatnya, dan kurentangkan kedua kakinya menjepit badanku yang berlutut di lantai. Liang kewanitaannya merekah persis di depan hidungku. Sambil terus mengocok batang kejantanan, segera lidahku menerobos ke lubang senggamanya. Indra sempat berontak. Duilah aku sampai kesurupan, lupa sama teman bermain yang masih yunior. Oke, sofly and gently again maunya.

Sambil menahan nafas yang sebetulnya sudah ngos-ngosan (nggak sempat minum extra joss) kucumbui liang kewanitaan Indra. Liang kewanitaan yang satu ini agak gemuk dan berbulu walau tak selebat milik Ita. Walau tak seindah milik Ita, tapi tetap punya daya tarik tersendiri. Belum lagi aromanya yang semerbak harumnya. Tetap pelan-pelan, kutelusuri tiap lekukan yang ada di liang kewanitaannya. Sedap juga lho bermain slowly seperti ini. Klitorisnya yang agak besar bergoyang mengikuti gerakan lidahku. Entah kata-kata apa saja yang keluar dari mulut Indra. Kurang jelas memang. Tapi kuyakini itu suara erangan dan rintihan wanita yang tengah enjoy dan penuh semangat. Membakar semangatku pula dalam memacu tanganku pada batang kejantanan sendiri. Kedengarannya tragis sekali. Bak peribahasa orang kelaparan dalam lumbung padi.

Pantat Indra yang padat dan besar membuat lubang anusnya ikut terbuka waktu diganjal bantal. Tanpa rasa jijik sedikitpun kujilat-jilat anusnya. Indra makin mengaduh keenakan apalagi kala lidahku mencoba menerobos masuk ke anusnya. Indra pun menunjukkan kerja sama yang baik dengan mengangkat pinggulnya. Aku pun turut meningkatkan speed game-nya. Agak capai juga berlutut terus, aku naik ke atas dan menindih tubuh Indra. Kuciumi sekujur payudaranya yang tak kalah kencang dengan punya Ita. Dan walau kalah besar, keindahannya susah untuk dinilai. Sambil menciumi payudaranya, tanganku makin cepat mengocok batang kejantanan sendiri. Akhirnya aku tak dapat menahan lebih lama lagi, sekujur tubuhku tiba-tiba menegang. Seiring dengan semburan keras yang berapi-api di batang kejantananku, segera aku melumat habis mulut Indra yang mungil. Lidah Indra memberi sambutan hangat dengan mengais-ngais lidahku.

Selepasnya kami bercengkarama, mereka semua kecuali Anita akhirnya minta pamit setelah sebelumnya mereka memakai pakaiannya kembali. Setelah mereka pergi, saya melakukan percintaan dengan Anita kembali hingga 1 jam sebelum jam 6 karena Ibu Yuli akan pulang ke rumah pada jam 6 tepat. Selesai kami bercinta, saya berpura-pura mengerjakan antena parabola itu sambil sekali-kali mengerlingkan mata kepada Anita walaupun ibunya sedang mengerjakan tugas kantor di sisinya.

TAMAT